Posts

Energi dari Komunitas Menulis

Setelah sekian lama absen menulis celotehan personal di blog ini — yah, nggak lama-lama amat sebetulnya, belum genap sebulan, gue memutuskan untuk kembali memberikan update (ngomong-ngomong, apa sih kata serapan bahasa Indonesia yang tepat untuk ‘update’? Kok, ‘pembaharuan’ terdengar berlebihan buat gue pakai dalam konteks ini?) mengenai apa aja yang sudah berlangsung selama satu bulan terakhir, tepatnya selama Ramadan.
Mungkin gue nggak akan bahas persis soal bulan Ramadannya, entri ini juga nggak akan mengulas bagaimana ritual agama gue jalankan karena selain gue nggak percaya diri, setau gue nggak boleh juga terlalu banyak bahas soal itu, salah-salah malah hangus nilai ibadah yang padahal belum seberapa. Entri ini juga nggak berisi petuah-petuah baik lainnya (gue rasa gue belum sampai pada tahap dan tingkatan itu untuk mampu). Tapi kalau boleh, gue mau berbagi tentang sebagian kecil yang gue rasakan sebagai bentuk dari berkah Ramadan, karena bentuk-bentuk lainnya gue yakin ada banya…

Bagiku Hanya Cerita, Bagi Mereka: Itu Realita

Image
Lebih dari enam puluh hari telah berlalu sejak World Health Organization (WHO) menetapkan wabah COVID-19 sebagai pandemi. Pembatasan fisik pun sudah diberlakukan di berbagai tempat di belahan dunia dengan harapan terputusnya rantai infeksi. Provinsi tempatku tinggal salah satunya – dengan jumlah total kasus mencapai 1.500-an ketika aku mulai menulis artikel ini, bagiku pribadi, rasanya cukup sulit untuk memprediksi atau sekadar berharap pandemi ini bisa cepat-cepat pergi. Menuju dua bulan berada dalam karantina, kebanyakan dari kita sudah mulai beradaptasi dengan apa yang orang-orang sebut dengan ‘Normal yang Baru’. Kita belajar dalam kelas-kelas virtual, bekerja dan memberi laporan pada atasan melalui telekonferensi, berbincang  dan bercengkerama bersama teman-teman dengan perantara layar sebagai bentuk upaya terakhir yang mampu kita lakukan untuk bertahan dan tetap berfungsi.
Jika kita cukup beruntung, rasanya hampir semua hal mampu kita tanggulangi dan disubstitusi dengan versi dala…

Like I Used To

Halo!

Hari ini menandai hampir sebulan berlangsungnya swakarantina dalam misi mulia dunia untuk pencegahan COVID-19. Dua minggu pertama sukses gue habiskan dengan rebahan-streaming-makan-rebahan lagi aja, sementara hampir dua minggu setelahnya, yaitu hingga sekarang, gue udah ada di kondisi membiasakan diri untuk menjalani perkuliahan secara daring, bahkan di saat status gue adalah seorang mahasiswa profesi, yang tentunya diharapkan buat lebih fasih melakukan praktik atas segala ilmu yang udah dipelajari ketika preklinik, dong.
Tapi sekarang, bukan itu yang mau gue omongin. Mari kita simpan untuk bahasan lain kali (semoga iya, ya, gue betulan bisa bahas banyak hal lagi di sini selama swakarantina!). Sekarang gue mau lebih menitikberatkan ke apa aja sih yang udah karantina ini perbuat seminimalnya terhadap gue, terutama terhadap cara gue berpikir dan ngeliat sekitar?
Oke, first of all… karantina jelas memberikan gue waktu untuk melihat kembali beberapa hal yang udah terlalu lama gue kaca…

Untuk Siapa (Seharusnya Aku Menulis)?

SOOCA terakhir di S.Ked tinggal hitungan jam lagi. Masih bisa dihitung juga sudah berapa kasus yang belum rampung kupelajari. Pikiranku belum bisa tenang untuk sepenuhnya fokus pada belajar. Kupikir, ada yang harus terlebih dahulu ditumpahkan.
Malam ini aku berpikir, sebetulnya, selama ini, aku menulis buat siapa? Buat apa, tepatnya?
Apakah aku menulis murni hanya sebagai wadah akan keinginanku berekspresi? Apakah aku menulis untuk mengirim pesan, menyampaikan apresiasi? Apakah aku menulis untuk berkeluh kesah, menguntai air mataku jadi puisi? Aku tidak yakin. Aku seharusnya tidak peduli. Yang kukhawatirkan beberapa waktu ini adalah bahwa selama ini, aku hanya menulis untuk mencari validasi.
Oleh karena itu, malam ini aku meninggalkan laman medium-ku, tempat aku terlalu sering mencari panggung untuk ditepuk tangani, agar kembali aku dapat merenungkan tujuanku menulis selama ini; semestinya, seminimalnya, hanyalah untuk memberi rasa utuh dari, oleh dan untuk diriku sendiri.
***
Malam …

To Open Another Window

I read, not because there is
something I am keen to know
I read, not because the authority
told me so

I read because I am looking
for an experience in another world
I read because I don't want only
my feet to determine how
far I could actually go

---

What can you say when we talk
about the theory of probability?

Would you tell us the slightest
chance of meeting something imaginary,
or would you still deny that to
open up doesn't mean you can't still
keep your mystery?

Written in the last lecture session on Thursday, September 15th. I sat on the front and was trying not to fall asleep.

Superpower

and if i may ask,
i would rather be loved
for my thoughts
for how i perceive the world
and everything beyond it

for what i keep in mind
for how i treat people as one
of a kind

for what keeps me up at night
for how i react when things were
not right

for what i've learnt every single day
for how being afraid won't
take me out of the way

for what i've been through
for how many peculiar stuffs
i knew

but most of all i'd rather be loved
for what you believe i can do,
no matter how many times i said
i wouldn't be able to

Clinical Manifestation of Breaking-Up

There may (or may not) be some form of physical pain. The first three days it will mostly feel like your body is losing its sensory nerves or some of them are broken; the only way you can explain how you feel is just numbness all over.

At nights you may also sense the presence of chill, strange enough to disturb your sleep, making its way down your spine. It’s completely common and I can tell you that you’re doing just fine.

During the day, don’t panic when you can finally feel sudden ache radiating from your chest; it’s just a normal response of sensing something being taken away.

But honey, you don’t have to struggle long,
For neither the pain nor the sorrow lasts longer than your most favorite, tragic love song.

Note:
This writing, despite the title, is nothing scientific.